Wednesday, 13 November 2013

Meraba Ujung Lero Dari Kejauhan

Menjelaskan Ujung Lero, walaupun belum pernah menginjakkan kaki ke daerah komunitas Mandar besar di tanah Bugis ini bukanlah hal yang tidak mungkin, media informasi yang begitu luas saat ini memungkinkan kita "meraba"  suatu daerah tanpa harus menjejakkan kaki terlebih dahulu.

Ujung Lero hanya sesekali saya pandangi dari bibir pantai kota Pare-Pare, letaknya yang strategis tepat di mulut teluk membuatnya menjadi mudah untuk dilsaksikan dari kejauhan, sangat jelas jika anda berdiri di sepanjang pantai Pare-Pare.

ujung lero dari bibir pantai kota pare-pare
Foto Ujung Lero dari bibir pantai kota Pare-Pare (Foto  : Tommuane Mandar)

Ujung Lero, adalah salah satu desa sentra pemukiman etnis Mandar di kecamatan Suppa kabupaten Pinrang, salah satu kabupaten yang berbatasan dengan kota Pare-Pare dan kabupaten Polewali mandar. Daerah ini dihuni oleh dominan etnis Mandar dengan latar belakang dari berbagai daerah di wilayah Polewali dan Majene. Daerah pemukiman ini terlihat sebagai daratan serupa pulau yang memanjang dan tepat di bagian ujungnya terdapat menara masjid Ujung Lero. 

Secara umum kecamatan Suppa terdiri dari 2 kelurahan dan 8 Desa, yaitu : Kelurahan Watang Suppa, Kelurahan Tellumpanua, Desa Lero, Desa Watang Pulu, Desa Maritengngae, Desa Tasiwalie, Desa Wiring Tasi, Desa Lotang Salo, Desa Ujung Labuang, Desa Polewali. Orang-orang dari etnis Mandar banyak tinggal di desa Lero dan daerah-daerah pesisir di kecamatan ini. Seperti yang diketahui bahwa etnis Mandar adalah kelompok masyarakat yang sangat dekat dengan laut, laut sudah menjadi teman dan ladang untuk mencari penghidupan, profesi mereka yang sebagian besar nelayan telah menjadikan merek identik dengan kehidupan laut, bermukim di pesisir dan menggantungkan hidup dari alam. Sama seperti persebaran etnis Mandar yang juga ditemukan di kabupaten Pangkep tepatnya di Kalmas (Kalukuang-Masalima). Dari dua pola persebaran etnis Mandar ini dapat dlihat secara umum bahwa kelompok masyarakat Mandar banyak tinggal di pesisir dan dekat dengan kehidupan laut.

Ujung lero banyak dihuni oleh etnis Mandar yang berprofesi sebagai nelayan, dari daerah ini pulalah banyak dilahirkan karya-karya seni terbaru tentang lagu-lagu daerah. Ada fakta bahwa karya seni budaya memang dekat dengan alam dan kondisi sosial masyarakat, laut bisa menjadi inspirasi yang sangat baik dalam menelurkan sebuah karya sastra, baik itu dalam bentuk puisi, senandung, ataupun lagu daerah. Ada banyak penyanyi dan pencipta lagu daerah Mandar yang menghiasi label rekaman dan berasal dari Ujung Lero. Ada yang mengatakan bahwa Ujung Lero adalah tempat bermukimnya orang Mandar ketika bencana gempa bumi tahun 1961 melanda tanah Mandar. Entahlah seperti apa yang jelasnya.

Minimnya informasi seputar Ujung Lero, karena daerah ini masih asing bagi, dan saya hanya bisa memandangi dan merabanya dari kejauhan saja.

Penulis :

Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling, fotografi dan pecinta wisata kuliner tertarik dengan dunia budaya dan wisata Mandar dalam realitas kekinian

Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar  blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com

Tuesday, 12 November 2013

Desa Mirring, salah satu desa yang terdapat di kecamatan Binuang, kabupaten Polewali Mandar. Desa pesisir yang selalu saja indah menurut saya. Setiap kali menginjakkan kaki dan memacu tali gas motor dengan kecepatan cukup tinggi entah mengapa saya selalu saja punya waktu untuk mampir walau sejenak di spot "tikungan tajam" perbatasan desa yang mirip sirkuit-sirkuit di video game balapan mobil yang biasa saya mainkan.

Desa Mirring Polewali Mandar Spot tikungan tajam di perbatasan desa Mirring kab. Polewali Mandar (Foto : Tommuane Mandar)

Tikungan tajam ini spot favorit saya dengan tebing batu disisi kiri dan pantai di sisi sebelahnya, tentu saja dengan pembatas jalan yang terbuat dari campuran baja dan besi berkekuatan tinggi yang dipasang untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan di lokasi ini. Disini juga ditambahkan cermin cembung berukuran besar yang memungkinkan anda melihat kendaraan yang ada didepan anda sebelum berbelok. Saking tajamnya tikungan ini, anda tak dapat melihat kendaraan yang berlawanan arah karena terhalang oleh bukit batu berukuran kecil di salah satu sisinya.

bukit batu tikungan tajam desa mirring

Tebing batu di salah satu sisi perbatasan desa Mirring (Foto : Tommuane Mandar)

Spot yang tepat berada di perbatasan desa Mirring ini cukup jarang saya temui, dahulu di wilayah Barru ada spot yang mirip dengan lokasi ini, namun karena pelebaran yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Barru, maka bukit-bukit batu yang tajam sedikit dikikis dan jalanan diperlebar, karena itu tikungan yang tadinya tajam menjadi tidak lagi dramatis, pembangunan memang kadang merubah sesuatu yang sebelumnya dramatis atau seru menjadi hal yang biasa-biasa saja. Pembangunan sejatinya menghilangkan kealamian sesuatu.

Satu hal berbeda adalah spot tikungan tajam Mirring yang nyaris tidak berubah, walaupun beberapa kali terjadi kecelakaan lalu lintas yang terjadi di lokasi ini, tetap saja bukit batu kecil itu tidak dikikis, atau mungkin wilayah ini belum mengagendakan proyek pelebaran jalan? entahlah, yang jelas spot ini selalu indah.
Mirring pada awalnya adalah desa yang bergabung dalam wilayah kecamatan Polewali dan kini masuk kedalam wilayah kecamatan Binuang. Dimanakah pesona terindah kabupaten Polewali Mandar untuk pemandangan pesisir dan areal persawahannya? kalau ada pertanyaan seperti itu, maka saya akan menjawab desa-desa di kecamatan Binuang adalah jawabannya, saat saya memasuki wilayah Binuang, entah itu dari arah Kabupaten Pinrang atau dari kota Polewali maka daerah ini menurut saya yang paling memanjakan mata. Binuang mempesona semenjak kita meninggalkan wilayah kota Polewali, disambut oleh areal persawahan, topografi berbukit, dan sesekali oleh kawasan pesisir dengan Mangrove (bakau) yang menemani selama perjalanan, belum lagi pulau-pulau yang terletak tepat didepan mata dan jelas terlihat dari tepi jalan. sebutlah misalnya Pulau Battoa yang dapat anda lihat langsung dari spot ini.

Bakau Mangrove Desa Mirring Polewali Mandar
 Pohon bakau (mangrove) di batas desa Mirring (Foto : Tommuane Mandar)

batas desa Mirring Polman
Bentuk tikungan tajam serupa kapsul dengan cermin cembung di sisi jalan (Foto : Tommuane Mandar)

batas desa mirring
Spot yang juga menjadi batas desa Mirring dengan desa tetangganya  (Foto : Tommuane Mandar)
Spot di perbatasan desa Mirring berupa tikungan tajam yang sudah cukup memakan korban ini adalah lokasi sempurna menurut saya, latar belakang Pulau Battoa dan hutan mangrove sangat apik untuk lokasi memotret, lokasinya berjarak sekitar 200 m dari perumahan penduduk, karena itu pesona alaminya masih bisa terlihat dengan jelas. Tak ada rumah penduduk yang akan menjadi latar memotret anda.
Pulau battoa batas desa mirring polewali
Pulau Battoa tampak dari batas desa Mirring  (Foto : Tommuane Mandar)

Kondisi kealamian ini sebaiknya terjaga, ini paling tidak bisa memanjakan mata orang-orang yang melakukan perjalanan di trans Sulawesi. Tetapi sejatinya masyarakat, penjaga kealamian Mirring, serta pemerintah, pihak pemilik kekuasaan tertinggi yang memiliki kebijakan penuh atas desa ini adalah dua pihak yang bertanggung jawab atas titik terindah di kecamatan Binuang ini.

Penulis :

Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling, fotografi dan pecinta wisata kuliner tertarik dengan dunia budaya dan wisata Mandar dalam realitas kekinian

Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar  blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com

Friday, 8 November 2013

Permandian alam air panas Limboro Majene, salah satu dari potensi objek wisata di kabupaten Majene yang menurut saya begitu pantas untuk dijadikan primadona andalan wisata. Mengapa saya katakan demikian? ada kehangatan "air panas alam" yang tersedia selama waktu yang tidak terbatas disini. Anda dapat dengan puas menikmati kehangatn air alamnya yang etah berasal darimana.

Telah lama objek wisata ini dikenal oleh orang-orang di kecamatan Sendana, utamanya mereka yang berdomisili dekat dengan desa Limboro, desa dimana objek wisata ini terletak. Desa asri yang terletak diantara gunung tinggi  di daerah pedalaman Sendana. Namun, tampaknya untuk kalangan penikmat wisata di Kabupaten Majene sendiri ataupun di Sulawesi Barat sepertiya belum cukup mengenal objek wisata "uai makula" ini. Saya mengenalny setelah seorang rekan yang selalu berkunjung kesini mengajak saya berkunjung ke tempat ini.

Pertama kali menjejakkan ke lokasi objek wisata yang menurut saya jarang di Sulawesi Barat ini (wisata permandian air panas alam) saya betul-betul takjub, entah berapa derajat Celcius suhunya, saya hampir-hampir tak bisa mencelupkan kedua kaki kedalam kolam yang berukuran besar, apatah lagi untuk kolam yang berukuran kecil, sesuai bidang permukaan semakin kecil permukaan maka penguapan akan semakin berkurang, maka jadilah kolam besar akan cenderung lebih dingin suhunya dibanding dengan kolam berukuran kecil. 

Terdapat kurang lebih tiga buah kolam, satu berukuran besar, sementara yang lainnya berukuran sedang dan kecil. Ketiganya tampaknya mendapatkan sumber mata air panas yang berbeda. Untuk kolam besar mata airnya disuplai oleh kolam berukuran kecil, sementara kolam sedang mata airnya disuplai dari titik yang berada di bagian atas kolam.

Konon mandi dipermandian ini dapat menghilangkan penyakit kulit yang anda derita. Dugaan saya kemungkinan terdapat sumber beleran dalam jumlah banyak disekitar kawasan ini, karena biasanya adanya aktivitas vulkanologik biasanya mendukung terciptanya air alam bersuhu panas.

Jika anda butuh merefleksi tubuh anda bisa ke tempat ini untuk sejenak merendam kedua kaki, atau bahkan mencelupkan seluruh tubuh dalam airnya yang cukup panas. Untuk soal berapa derajat Celcius panasa yang dihasilkan saya tidak tahu tepat, yang jelas saya yakin untuk tidak mencelupkan seluruh anggota badan dalam kolam ini, baik yang besar sedang atau kecil, panasnya cukup hebat menurut sayabelum lagi kondisi alam yang dingin di sekitar kolam yang ditumbuhi oleh pepohonan tinggi khas pegunungan membuat suasana dingin, kontras dengan air kolam yang begitu panas.

Satu fakta yang saya dapati saat menjejaki objek wisata ini adalah akses jalan yang cukup sulit, memacu adrenalin karena anda harus memacu kendaraan di puncak dengan ketinggian entah berapa derajat. rute jalan berukuran kecil kadang beraspal dan beton tidak mudah untuk dilalui, singkatnya "butuh perjuangan" untuk sampai ke tempat wisata ini. Jurang menganga di sisi kiri dan kanan serta tanjakan dan turunan yang curam memaksa anda untuk tetap fokus pada rute jalan yang dilalui. Lalu janga berharap jika jalurnya padat, sebaliknya ini jalur sepi, kurang lebih sama ketika kita berada di tengah hutan cagar alam, hanya ada pohon, sungai dan suara burung yang akan anda dengarkan. Sesekali anda akan menemukan warga desa Limboro yang melalui rute ini dari desa mereka menuju kota kecamatan Sendana.

 Kolam berukuran sedang Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

  Kolam berukuran besar Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

  Kolam berukuran kecil sebagai sumber mata air bagi kolam besar
 Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar
 
Satu kekaguman saya pada warga desa setempat yang tahan berendam di kolam yang berukuran kecil, yangmmenurut saya tingkat panasnya cukup tinggi, mereka dengan mudahnya berendam, bahkan mandi di kolam yang kecil ini, sepertinya tubuh mereka telah melakukan adaptasi terhadap suhu kolam, sehingga tubuhnya menganggap bahwa suhu air kolam masih dapat ditolerir, dan mereka tahan dengan panasnya air kolam. Para peladang yang pulang dari tempatnya bekerja kadang singgah di kolam ini untuk sekedar berendam, mandi dan kemudian pulang kerumahnya, 

Masuk ke objek wisata ini anda tidak harus membayar biaya retribusi, tiak ada pihak pengelola disini, karena itu anda dapat berpuas dan berlama-lama masuk ke area objek wisata ini. Salah satu faktor penting yang sekiranya dapat membuat objek wisata ini dapat diakses dengan mudah adalah adanya akses jalan yang memadai, dan itu tampaknya belum cukup maksimal dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab atas ini.

Penulis :
Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling, fotografi dan pecinta wisata kuliner tertarik dengan dunia budaya dan wisata Mandar dalam realitas kekinian

Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar
blog : http://tommuanemandaronline.blogspot.com

Monday, 4 November 2013

Pantai Palippis, Polewali Mandar bukan "anak baru", objek wisata ini sudah tergolong "remaja" bahkan bisa dikatakan cukup "dewasa" tetapi masih saja belum dapat dimaksimalkan potensinya. Entah kemudian kita akan menyalahkan siapa atas kondisi Palippis saat ini, ya, ia tidak cukup bersih menurut saya, sama seperti masalah yang menghantam objek-objek wisata lainnya di provinsi Sulawesi Barat, dalam kata lain "minim pengelolaan. Lalu apakah kita akan menyalahkan pemerintah? atau masyarakat sekitar? atau bahkan menyalahkan seluruh warga Sulawesi Barat? 

Pantai Palippis Polewali Mandar
Pantai Palippis di kabupaten Polewali Mandar (Photo Credit : Pusvawirna Natalia Muchtar)
Tidak bijak mungkin jika kita menyalahkan keadaan, orang per orang. Entahlah, seperti apa tepatnya yang jelas keadaan pantai berpasir putih ini yang minim pengunjung, kondisi pantai tak terawat, dan tidak dapat menyumbang pendapatan bagi daerah kabupatennya, atau minimal memberikan pendapatan bagi warga yang tinggal disekitarnya.

Lalu apakah pesona pantai Palippis tidak ada, atau hilang? tentu saja tidak, pesonanya akan tetap ada, sama seperti pesona yang dimiliki pantai-pantai karang berpasir di pesisir teluk Mandar yang selalu kemerlap dengan warna putih pasirnya. Hanya saja pesonanya mungkin tertutupi oleh sampah, benda-benda asing yang terdampar di pesisirnya.

Lalu siapa yang harus membersihkan pantai Palippis? pertanyaan bagus yang mungkin bisa kita alamatkan ke siapa saja, apakah pemerintah? apakah warga? mungkin solusi yang tepat untuk pengelolaan objek wiata seperti ini adalah bentuk kemitraan antara pemerintah dan masyarakat, pemerintah mengaturnya dan melibatkan warga sekitar sebagai staf yang bekerja di wilayah Pantai, tukang parkir, pedagang asongan, petugas pembersih pantai, staff keamanan, dan hasilnya kemudian dilakukan penilaian dalam jangka waktu tertentu misalnya tiap bulan, tiga bulan, enam bulan, dan setahun. Tentu saja dengan motif komersialisasi yang baik, staff diberi upah atau gaji yang cukup sesuai dengan total keuntungan yang didapatkan oleh objek wisata ini.

Kedengarannya mudah kan? tetapi tidak sesimpel itu, butuh untuk mendatangkan kembali pengunjung wisata ke Pantai palippis, karena merekalah sumber pendapatan, semakin banyak mereka menghabiskan uang di lokasi ini, maka keuntungan objek wisata akan semakin maksimal, tentu saja ini butuh kesiapan fasilitas i objek wisata, misalnya saja untuk tempat peristirahatan berupa guest house, akses jalan yang baik, fasilitas untuk kebutuhan dasar. 

Yang jelas, pantai Palippis menurut saya potensial untuk dikembangkan, sama halnya dengan Pantai Mampie Polewali Mandar yang sudah dikelola dengan begitu profesional hari ini.

Penulis :
Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling, fotografi dan pecinta wisata kuliner tertarik dengan dunia budaya dan wisata Mandar dalam realitas kekinian

Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar 

Saturday, 28 September 2013

Pupuq Mandar Dan Nilai Nutrisinya

Pupuq Mandar, lauk  dari ikan bercampur kelapa yang khas dari suku Mandar, Sulawesi Barat ini saat dilihat selalu mengingatkan pada tanah Mandar. Bagaimana tidak jika rasa, aroma, dan bentuknya yang unik hampir selalu ditemui saat aktivitas makan, entah itu di acara-acara adat daerah, perkawinan, sunatan, kelahiran, bahkan pada saat kematian. Dalam baki besar atau biasa disebut “kappar” ia akan berpadu dengan sayur kari ayam, sambal goreng, telur rebus dan lauk lainnya. Sehingga jika lama tidak bertemu dengan lauk ini maka memori akan sejenak melakukan “flashback” sejenak sebelum memakannya, betapa wilayah suku Mandar identik dengan lauk ini.

Pupuq Mandar
Foto Pupuq Mandar
Foto : Tommuane Mandar
Bahan lauk pupuq Mandar yang terdiri atas ikan yang dicampur dengan rasa gurih kelapa memang sangat lezat untuk dinikmati, bahkan jika suatu saat di meja makan hanya ada sepiring pupuq, maka lauk tunggal ini dengan paduan nasi hangat sepertinya masih cukup untuk mewakili rasa makanan yang lezat. Rasanya yang tajam dengan bumbu dan proses penggorengannya membuat ia memiliki kandungan minyak dan bumbu yang jauh meresap ke dalam setiap butir-butir bahannya, melahirkan rasa gurih dan lezat sempurna.

Beberapa makanan lokal khas suku Mandar, Sulawesi Barat dikenal tidak cukup sehat, ada proses pengolahan seperti penggorengan, penambahan elemen santan untuk dan penambahan minyak untuk alasan gurihnya masakan. Pengolahan-pengolahan makanan ini akan berpengaruh terhadap nilai nutrisi yang dimilikinya.

Nutrisi Pupuq Mandar

Jika kemudian dilakukan tinjauan terhadap nilai nutrisi pupuq maka kita cenderung akan menyimpulkan bahwa lauk ini unggul di bahan utama yaitu  ikan. Jenis ikan yang biasa dijadikan untuk membuat pupuq adalah jenis ikan tongkol atau ikan tuna. Ikan yang menjadi komoditi bahari utama di wilayah pesisir Mandar, Sulawesi Barat tidak diragukan lagi menjadi sumber asupan protein terbaik untuk proses pertumbuhan dan pergantian sel-sel di jaringan tubuh. 

Kuliner Pupuq Mandar
Kuliner Pupuq Mandar
Foto : Tommuane Mandar 
Pengolahan pupuq Mandar yang dicampur dengan bumbu-bumbu dan penambahan sedikit kelapa dibentuk dengan daun pisang dan digoreng adalah rangkaian proses pembuatan pupuq. Langkah penggorengan dalam hal ini sedikit banyak mempengaruhi kandungan nutrisi pada pupuq. seperti diketahui bahwa ikan yang diolah dengan digoreng akan kehilangan asam aminonya, karena itu banyak pengolahan ikan yang merekomendasikan untuk tidak menggorengnya jika ingin mendapatkan manfaat protein hewani ikan yang seutuhnya. Protein dengan kandungan asam amino pada ikan tergolong dalam jenis asam amino esensial yang dapat membantu perkembangan tubuh. Karena digoreng, kandungan asam amino ikan dalam pupuq sendiri cenderung akan berkurang, belum lagi efek negatif minyak sebagai faktor penambah elemen lemak dan penambah kolesterol yang tidak sehat.

Lalu bagaimana kemudian bersikap dengan nilai nutrisi pupuq Mandar yang akan cenderung berkurang ketika digoreng. Mungkin tidak banyak yang dilakukan, karena tidak mungkin mengubah secara mendasar teknik pengolahan kuliner ini dengan merebusnya atau dengan cara lainnya. Saran yang bijak adalah konsumsilah dalam jumlah yang terbatas, terutama jika anda memiliki masalah dengan tingkat lemak atau kolesterol yang tinggi. Seperti yang diketahui juga bahwa pupuq biasanya digoreng dengan menggunakan produk minyak Mandar yang terbuat dari kelapa dan memiliki kandungan kolesterol yang tinggi. Jika anda mengonsumsi pupuq yang juga digoreng dengan minyak Mandar maka ini dapat menyumbang untuk peningkatan nilai kolesterol anda.

Tidak juga kemudian bijak jika anda menghindarkan untuk sama sekali tidak mengonsumsi lauk ini (Pupuq). Anda akan kehilangan sensasi rasa gurih dan lezatnya yang tidak akan anda dapatkan di lauk lain. Nikmatilah lauk ini dalam jumlah yang wajar selama kondisi tubuh anda masih berada dalam keadaan yang cukup sehat. 

Penulis :
Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling, fotografi dan pecinta wisata kuliner tertarik dengan dunia budaya dan wisata Mandar dalam realitas kekinian

Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar

Friday, 2 August 2013

Derasnya sungai Limbong Sitodo bukanlah suatu alasan untuk tidak mencicipi kenaturalan sungai ini. Permandian alam Limbong Sitodo ini berada dalam wilayah Kelurahan Anreapi Kecamatan Polewali. Objek wisata alam ini terletak tak jauh dari kota Polewali, hanya berjarak 6 km, menjadikan Limbong sebagai alternative dalam agenda wisata sungai para wisatawan. Apalagi pada saat musim Durian, Rambutan, ataupun Langsat semakin menambah kegairahan wistawan untuk berkunjung ke Limbong Sitodo.

Limbong Sitodo Polman
Panorama Wisata Alam Limbong Sitodo Polman
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/ 
Pada musim buah tersebut, anda akan menjumpai banyak pedagang yang menjual ketiga buah tersebut disepanjang jalur masuk Limbong. Maka tak heran, jika setelah menikmati sensasi sungai Limbong, kurang afdol rasanya jika tak menjadikan ketiga buah tersebut sebagai buah tangan untuk keluarga anda. Tak perlu khwatir masalah harga, semuanya bisa dinegosiasikan.

Layaknya tempat permandian pada umumnya, fasilitas penunjang rekreasi juga tersedia. Ada beberapa gazebo dan beberapa tempat pilihan untuk sejenak menatap aliran sungai Limbong. Setidaknya sensasi kelembapannya sedikit membantu anda untuk kembali merefresh pikiran anda dari rutinitas yang cukup membelenggu. 

Wisata Alam Limbong Sitodo Polewali Mandar
Wisata Alam Limbong Sitodo di Kab. Polewali Mandar
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/
Hampir tiap hari permandian yang terkenal dengan keindahan panoramanya ini dipadati wisatawan lokal, apalagi jika bertepatan dengan hari libur. Ini terlihat dengan padatnya tempat parkiran yang disediakan, alhasil orang-orang yang mencari nafkah sebagai juru parkir kadang kewalahan karena musti mengatur kendaraan yang bajibun banyaknya. Ditambah lagi, lahan parkir yang tersedia tidak terlalu besar, mengingat lokasi permandian Limbong terletak diantara pegununggan. Kendati demikian, tak urung menyurutkan niat menggebu para wisatawan untuk berderu bersama arus sungai Limbong. 

Sungai Limbong Sitodo
Sungai Limbong Sitodo yang alami
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/
Sajian panorama alam Limbong Sitodo semakin diperindah dengan tebing-tebing yang menjualang tinggi. Dan tepat di bawahnya terdapat beberapa batuan tinggi yang sering digunakan oleh para wisatawan, terkhusus mereka yang hobby melakukan antraksi lompat indah. Namun, kewaspadaan harus tetap di jaga, apalagi bagi wisatawan yang tidak memiliki cukup keberanian untuk mencobanya. Terlepas dari itu, berwisata ke Limbong Sitodo bukanlah pilihan yang mengecewakan.

Penulis :

Dian Febriani, hobi travelling, menulis, dan membaca buku, saat ini sedang bermukim di Makassar, menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan pendidikan Bahasa Inggris, aktif di organisasi kampus Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa (LPPM) Profesi UNM

Kontak Saya :
facebook : https://www.facebook.com/yuuka.shimizudhani 


Wednesday, 31 July 2013

Memotret Sisi Dermaga Kota Majene

Majene, kota kabupaten yang masuk dalam wilayah provinsi Sulawesi Barat adalah salah satu dari enam kabupaten yang menyusun provinsi ini. Majene menjadi kabupaten yang berusia cukup tua seusia Mamuju, dan Polewali Mandar, kabupaten Mamasa, kabupaten Mamuju Utara dan kabupaten Mamuju Tengah menjadi kabupaten pendukung yang merupakan hasil pemekaran.

Dermaga Kota Majene
Dermaga kota Majene tampak dari kejauhan
Foto : Tommuane Mandar 
Kota Majene memiliki garis panjang pantai sekitar 125 km yang memanjang dari selatan hingga ke utara, karena alasan topografi pesisir pantai yang cukup panjang ini, maka ketika anda melintasi wilayah kabupaten Majene maka pemandangan pesisir pantai adalah view yang akan sering anda temui. Dari topografi kota Majene ini pulalah berkembang budaya dan penghidupan masyarakat yang dekat dengan laut, karena itu potensi laut dan pesisir adalah hal yang dominan di kota kabupaten ini. Sebagian masyarakatnya hidup di wilayah pesisir dan menggantungkan hidup dari laut, walaupun tidak semua masyarakat berdomisili di wilayah pantai.

Masyarakat kota Majene sehari-hari dekat dengan kehidupan laut dan pesisir adalah hal yang wajar. Perahu nelayan, ikan segar, tempat pelelangan ikan, aroma laut, semuanya adalah hal yang lumrah bagi masyarakat di kota ini. Dan tempat-tempat masyarakat kota ini berkumpul adalah umumnya dekat dengan laut dan pantai.

Pantai Dato Majene
Tampak di ujung daratan adalah Pantai Dato dengan pasir putihnya
Foto : Tommuane Mandar

Pemandangan Pelabuhan Majene
Pemandangan pelabuhan Majene tampak dari atas
Foto : Tommuane Mandar 
Perahu Nelayan Majene
Perahu nelayan di pesisir pantai Majene yang ditambatkan
Foto : Tommuane Mandar 
Dinding Pemecah Ombak Majene
Salah satu dinding pemecah ombak di Pantai Majene
Foto : Tommuane Mandar 
Secara umum kota kabupaten ini beriklim cukup panas dengan masa musim penghujan yang singkat, namun perubahan iklim saat ini yang cukup ekstrim membuat kota Majene menjadi tidak dapat ditentukan masanya, kadang iklimnya panas namun dilain waktu hujan dapat saja tiba-tiba muncul.

Sisi dermaga Majene adalah tempat yang paling mudah dikunjungi jika anda ingin berwisata, walaupun memang juga terdapat objek wisata yang terdapat di daerah pegunungan. Di  dermaga anda akan dengan mudah menemukan para pemancing ikan, nelayan yang pulang dari laut, anak-anak yang mandi, serta warga yang sedang menikmati pemandangan pantai.

Penulis :
Tommuane Mandar, saat ini menetap di Makassar, hobi travelling, fotografi dan pecinta wisata kuliner tertarik dengan dunia budaya dan wisata Mandar dalam realitas kekinian

Kontak Saya :
twitter : https://twitter.com/tommuane_mandar

Monday, 29 July 2013

Lontaraq, Artefak Budaya Yang Terabaikan

Perjalanan hidup dan kehidupan manusia tidak pernah lepas dari cerita yang didorong oleh keinginan manusia itu untuk dikenang dan meninggalkan kenangan itu untuk menjadi pelajaran bagi anak keturunannya, meskipun hal ini mungkin disadari setelah zaman memasuki era sejarah namun setidaknya usaha nenek moyang manusia untuk meninggalkan jejak sudah dimulai diera pra sejarah meski melalui simbol, gambar atau bangunan. Dari budaya penyampaian cerita lisan lalu beralih pada penggunaan simbol sederhana, inilah yang kemudian berkembang menjadi sebuah aksara atau tulisan. 
Aksara Lontaraq Mandar
Contoh Penulisan Aksara Lontaraq
Foto : Zulfihadi

Tentu saja pengkajian budaya tulisan tidak semudah membuat "Jepa" (makanan khas mandar), namun melalui proses yang rumit dan melelahkan. Setidaknya begitulah kesimpulan saya setelah membaca resume hasil SEMINAR ANTAR BANGSA “Dialek-dialek Austronesia Di Nusantara III” (Dialek Pribumi Warisan Keterampilan Jati Diri), pada bulan Januari 2008 lalu. “Dimana dalam melakukan penelitian, beberapa ahli menggunakan metode analisis semiotik kultural sebagai piranti analisis karena lebih menekankan perhatian pada aspek lambang-lambang yang merupakan bagian dari kata, istilah, kalimat, paragraf dari teks yang ingin dipertanyakan lebih jauh guna menemukan arti atau makna yang dikandungnya. Makna dari sebuah simbol atau lambang yang digunakan dalam hal ini dimaksudkan sebagai hasil kegiatan sosial dalam sebuah masyarakat sehingga pemahamannya tidak bisa bebas konteks tetapi membutuhkan konteks dari pengguna/pemakai simbol tersebut dalam proses pemaknaannya”.

Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita suku Mandar yang hidup di jazirah Sulawesi bahwa dari ratusan suku bangsa yang ada di nusantara, ternyata hanya sedikit yang mempunyai budaya tulisan. Bahkan kalau kita amati, beberapa suku yang ada dipulau Celebes tidak mengenal budaya tulis ini seperti halnya Makassar, Bugis dan Mandar. Aksara yang digunakan oleh ketiga suku ini disebut sebagai aksara "Lontaraq" yang didalam penulisan menggunakan bahasa masing-masing.
Jadi orang Makassar menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Makassar, Bugis menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Bugis dan Mandar pun menulis aksara Lontaraq dalam bahasa Mandar. Menyebutkan kata Lontaraq terkadang merujuk pada jenis aksaranya namun terkadang pula genre pembahasan yang terkandung pada tulisan tersebut, seperti misalnya Lontara Pattodioloang yang meceritakan asal usul manusia Mandar, Lontaraq Sendana, Lontaraq Mandar dll.
Media Daun Lontar
Gulungan Lontaraq Asli
Salah satu contoh gulungan daun lontar yang asli
Foto : Zulfihadi

Kata "Lontaraq" sebenarnya mengacu pada bahan utama media penulisan yaitu daun Lontar. Sejenis tanaman palem-paleman yang tumbuh didaerah tropis, mempunyai buah yang bundar dan isinya dapat dimakan dengan rasa yang mirip kelapa muda. Pada permukaan daun inilah ditorehkan aksara dengan menggunakan ujung ijuk enau yang keras dan berbentuk seperti lidi biasanya digunakan sebagai alat bantu penunjuk saat mengaji dan pada orang bugis disebut “kalla”. Setelah aksara ditulis, lalu disapukan dengan kemiri yang telah dibakar hingga menghasilkan tulisan yang berwarna hitam sehingga mudah untuk dibaca.

Awal Mula Penggunaan Aksara Lontaraq 
Kapan aksara lontaraq mulai digunakan? ini adalah pertanyaan yang sering terlontar dan menjadi pertentangan diantara mereka yang mementingkan egosentris dan etnosentris.
Menurut sejarah, aksara Lontaraq diperkenalkan oleh Daeng Pamatte dikenal sebagai cerdik cendikia pada zamannya dan beliau pula sempat menggemparkan jagat sains eropa dikarenakan memesan teropong besar dan tiruan bola bumi yang masih menjadi barang langka dan mahal waktu itu sebab masih merupakan temuan yang baru. Beliau menjabat sebagai Sabannarak atau Syahbandar Kerajaan Gowa. Ketika Kerajaan Gowa diperintah oleh Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi yang bergelar Karaeng Tumappari’si’ Kallonna, Daeng Pamatte menjabati dua jabatan sekaligus yaitu Sabannarak merangkap Tumailalang (Menteri Urusan Istana dan Dalam Negeri). Pada waktu itu Karaeng Tumappari’si’ Kallonna memberikan titah kepada Daeng Pamatte untuk menciptakan aksara yang dapat dipakai untuk tulis-menulis. 
Pada tahun 1538, Daeng Pamatte berhasil mengarang aksara Lontara yang terdiri atas 18 huruf dan juga tulisan huruf Makassar Kuno. Kemudian, aksara "Lontaraq" ini dipermoderen dan bentuknya lebih disederhanakan sehingga jumlah hurufnya menjadi 19, akibat masuknya pengaruh bahasa Arab. Dalam perkembangan selanjutnya karena ada vocal bugis yang tidak terdapat pada vocal makassar maka ditambahkanlah empat huruf lainnya yaitu NKA, NCA, NPA dan NRA sebagaimana modelnya yang sekarang. (sumber: Sempugi@m.facebook)

Menurut akademisi yang sekaligus budayawan, Prof H. A. Mattulada, (alm) terinspirasi oleh “sulapa eppa wala suji“. Wala suji berasal dari kata wala yang berarti pemisah/pagar/penjaga dan suji berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, api, air, angin dan tanah.

Akhirnya aksara ini terus mengalami perubahan dan penyempurnaan hingga mencapai bentuknya yang sekarang yang berjumlah 23 huruf (termasuk bunyi konsonan dan vokal a) dan disusun berdasarkan aturan tersendiri. Dalam sistem aksara ini, dikenal penanda vokal untuk u, e, o, ae.

Namun, aksara "Lontaraq" tidak mengenal huruf atau lambang untuk mematikan huruf misalnya sa menjadi s. Ketiadaan tanda-mati ini cukup membingungkan bila ingin menuliskan huruf mati. Juga, di banding aksara-aksara lain, aksara Lontara tak memiliki semua fonem. Beberapa huruf ditafsirkan secara teoretis dengan sembilan cara berbeda, dan ini juga kadang-kadang menimbulkan masalah bagi penafsiran pembaca.

Penggunaan aksara lontara ini sendiri pada masyarakat suku Mandar jaman dahulu tertuang dalam penulisan seni sastra dan prosa yang meliputi :
- Pomolitang atau pau-pau losong (dongeng) dengan menggambarkan tingkah laku binatang yang baik dan buruk yang dapat dicontohi oleh manusia, misalnya dongeng I Puccecang annaq I Pulladoq (Kera denagan Pelanduk), di mana kera melaksanakan sifat yang baik dan pelanduk melaksanakan sifat yang kurang baik.
- Toloq (kissah) menggambarkan liku-liku kehidupan dari seseorang tokoh dalam masyarakat misalnya kisah Tonisesseq di Tingalor (seorang bidadari jatuh dari kayangan dan ditelan oleh seekor ikan Tingalor).
- Sila-sila (silsilah) menggambarkan suatu kerajaan dan nama-nama rajanya secara turun-temurun, misalnya silsilah raja-raja di Pamboang, Sendana, Banggae dsb.
- Pau-pau pasang atau Pappasang (pesan-pesan luhur) menggambarkan ajaran normal, nasihat dan petuah bagi kehidupan seseorang, keluarga dan bagi kehidupan masyarakat yang lebih luas, misalnya pesan orang tua terhadap anak-anaknya, pesan seorang kakek terhadap pasangan suami isteri, pesan seorang sesepuh kepada warga masyarakat, pesan-pesan raja pada rakyatnya.
- Karangan bentuk puisi disebut juga kalindaqdaq.
- Assitalliang atau perjanjian /traktat.

Akhir tulisan, kembali penulis mengajak pada pembaca sekalian khususnya yang memiliki perhatian pada budaya agar supaya mau melirik kembali aksara ini sebagai sebuah mahakarya dari leluhur kita yang hampir punah. Jika melihat jumlah generasi yang masih bisa membaca dan memahami aksara lontara ini yang dari waktu ke waktu semakin berkurang, jika tidak diambil sebuah tindakan usaha penyelamatan maka niscaya beberapa generasi lagi aksara lontara ini akan menjadi asing dinegerinya sendiri.
Referensi  (Sumber Bacaan) :
  • Anonim. 2008. Seminar Antar Bangsa "Dialek-Dialek Austronesia di Nusantara III" (Dialek Pribumi Warisan Keterampilan Jati Diri). 
  • Anonim. Budaya Mandar. Available on http://datastudi.wordpress.com/2008/08/17/budaya-mandar/ (diakses 23 juli 2013)
  • Diskusi grup sosial media  "Sempugi"
Penulis :
Zulfihadi
Zulfihadi, saat ini menetap di kec. Wonomulyo Kab. Polewali Mandar, hobi membaca hal yang berkaitan dengan sejarah dan budaya daerah serta mengutak-atik komputer, tenaga pendidik di SMK Soeparman Wonomulyo dan aktif sebagai pembina Pramuka di instansi mengajarnya.

Kontak Saya :

Pamboqborang, salah satu desa yang masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Majene provinsi Sulawesi Barat, berjarak sekitar 5 km dari kota kabupaten, menyimpan berbagai macam potensi wisata sejarah dan budaya yang belum banyak dikenal oleh orang-orang. Mulai dari potensi wisata sejarah berupa  kompleks makam berusia ratusan tahun, wisata budaya kampung pandai besi, dan wisata air terjun.

Desa Pamboqborang kab. Majene
Desa Pamboqborang kab. Majene tampak dari atas
Foto : Nasbi
Wisata Budaya (Sentra pandai besi di kabupaten Majene)
Pamboborang merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Banggae Kabupaten Majene. Desa ini baru terbentuk pada tahun 2012 setelah resmi memisahkan diri dari kelurahan Totoli Kabupaten Majene. Pamboborang juga terkenal dengan julukan “Kappung Kowiq” (kampung pandai besi) karena sejak zaman dahulu sampai sekarang di kampung ini mayoritas masyarakatnya merupakan pandai besi. Mereka tersebar diseluruh kampung, dan menyusun persentasi hingga 90% warga merupakan pandai besi “pande bassi”. Ketika memasuki wilayah desa ini, maka anda akan disambut dengan gerbang yang berbentuk parang.

Pemandangan Desa Pamboqborang Majene
Pemandangan Desa Pamboqborang Majene tampak dari atas bukit 
Foto : Nasbi 
Wisata Sejarah (Kompleks Pemakaman Berusia Ratusan Tahun)
Desa pamboqborang memiliki beberapa kompleks makan berusia ratusan tahun yang masuk dalam inventaris balai purbakala Sulawesi Selatan serta mendapat perhatian khusus dari dinas budaya dan pariwisata. Setidaknya ada empat kompleks makam (Kompleks Makam Tosalamaq, Kompleks Makam Imanang, Kompleks Makam Kubang, dan Kompleks Makam Tambulese)

Kompleks Makam Kuno Imanang dan Kubang.
Merupakan pekuburan yang tercatat sebagai pekuburan kuno yang ada di Kabupaten Majene. Dua pekuburan ini berjarak cukup dekat, antara pekuburan Imanang dan Kubang hanya berjarak 250 meter. Jika anda berkunjung ke tempat ini dan menemukan tempat ini sangat bersih, maka jangan heran karena warga desa punya perhatian besar dengan rutin membersihkannya.

Kompleks Makam Imanang

Kompleks Makam Imanang Desa Pamboqborang
Kompleks makam Imanang di desa Pamboqborang kab. Majene
Foto : Nasbi


Kompleks Makam Imanang Desa Pamboqborang Majene
Kondisi kompleks Makam kuno Imanang Desa Pamboqborang 
Foto : Nasbi
Kompleks Makam Kubang

Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang
Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang di kab. Majene
Foto : Nasbi

Kompleks Makam Kubang Desa Pamboqborang Majene
Salah satu makam dalam kompleks makam Kubang Desa Pamboqborang Majene
Foto : Nasbi

Makam Tosalamaq I
Makam ini dipercaya sebagai makam ulama yang membawa ajaran Agama Islam di sekitar Pamboqborang. Makam ini terletak di atas bukit Pamboqborang, merupakan makam Tosalamaq utama. Pemakaman ini selalu ramai dengan peziarah yang datang dari desa Pamboqborang dan sekitarnya. Ada tradisi yang unik yang dilakukan oleh para peziarah yang datang ke kubur “Tosalamaq” ini, yakni: melepas ayam dengan jumlah banyak, bagi warga atau peziarah yang dapat menangkap ayam yang dilepas tadi maka ia berhak untuk memiliki ayam tersebut. Selain itu, tradisi siram air kobokan “pekkonyoang” setelah acara juga sangat unik, peziarah saling siram satu sama lain sehingga suasana kekeluargaan pada saat acara sangat terasa.

Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang Majene
Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang Majene
Foto : Nasbi
Makam Tosalamaq 1 Desa Pamboqborang
Makam Tosalamaq utama yang terdapat di puncak bukit desa Pamboqborang
Foto : Nasbi


Makam Tosalamaq II

Makam Tosalamaq 2 Desa Pamboqborang
Makam Tosalamaq 2 Desa Pamboqborang yang terletak di tepi bukit
Foto : Nasbi

Makam ini juga terletak diatas bukit pamboqborang, jarak dari kuburan Tosalamaq Utama ke makam ini sejauh 300 meter. Makam ini juga dikunjungi oleh para peziarah, bedanya adalah di makam utama seluruh peziarah berkumpul dan melakukan tradisi yang telah disebutkan tadi, sedangkan dimakam yang kedua ini peziarah hanya membaca doa dan dilakukan oleh orang-orang tua. Selain itu, di lokasi kuburan kedua ini merupakan arena perlombaan layangan Mandar “Pappasitindaq layang”,

Makam “Tokaiyyang”

Makam Tokaiyyang Desa Pamboqborang Majene
Makam Tokaiyyang di Desa Pamboqborang Majene
Foto : Nasbi
Makam ini merupakan makam orang yang sangat dituakan di desa ini. "Tokayyang" atau "Toniposo di Sendana" adalah salah satu tokoh yang sangat disegani di masanya, konon ia pernah berperang dengan orang dari Somba selama tiga hari tanpa bantuan (sendiri) dan dia selamat pada perang saat itu.

Wisata Alam ( Bendungan, Air Terjun, dan Mata Air)

Bendungan "Ceqdang" Pamboqborang

Bendungan Ceqdang Pamboqborang Majene
Bendungan Ceqdang Pamboqborang Majene
Foto : Nasbi
Bendungan Ceqdang Pamboqborang
Bendungan Ceqdang Pamboqborang di kab. Majene
Foto : Nasbi
Tempat ini merupakan bendungan yang pernah dibangun pada akhir tahun 1970-an. Akan tetapi, bendungan ini hanya dapat bertahan sekitar 10 tahun dan akhirnya jebol. Bendungan "ceqdang" yang jebol sempat membuat warga kampung yang dilalui oleh sungai Salu khawatir. Sampai sekarang reruntuhan bendungan ini masih dapat dilihat dan banyak orang yang menggunakan tempat ini sebagai tempat rekreasi dan spot untuk foto prawedding. Tampak fisik bendungan ini cukup panjang dan masih baik namun karena tidak terawat ia mulai usang dimakan usia.
Air Terjun  “Uai Turang”
Air Terjun Desa Pamboqborang
Air Terjun "Uai Turang" Desa Pamboqborang
Foto : Nasbi
Air Terjun Desa Pamboqborang Majene
Air Terjun Desa Pamboqborang di Kab. Majene
Foto : Nasbi
Air terjun ini hanya berjarak 400 meter dari sumber mata air Salu, tempat ini sangat pas dikunjungi pada saat libur tiba. Tempat ini biasanya ramai ketika hari minggu atau hari-hari libur sekolah. Akses ke tempat ini bisa dibilang cukup mudah karena masih berada disekitar wilayah desa. Didekat air terjun ini terdapat lapangan yang sering digunakan oleh anak-anak sekolah untuk kegiatan perkemahan dan Palang Merah Remaja (PMR).

Mata air “Uai Salu”
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang kab. Majene
Foto : Nasbi
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang kab Majene
Mata Air Uai Salu Desa Pamboqborang di kab Majene
 Foto : Nasbi
Sejak dahulu warga sekitar desa Pamboborang menggunakan mata air ini sebagai sumber mata air yang dapat diminum, mata air ini tidak pernah kering. Sampai sekarang mata air ini masih digunakan oleh warga sekitar, bukan hanya warga sekitar Pamboqborang yang mengambil air di tempat ini tetapi warga yang berada di luar bahkan yang berasal dari kota Majene juga banyak yang datang mengambil air ditempat ini untuk diminum.
Kolam Sandang
Kolam Sandang Desa Pamboqborang Majene
Kondisi kolam Sandang Desa Pamboqborang Majene saat ini
Foto : Nasbi
Kolam Sandang Desa Pamboqborang
Kolam Sandang Desa Pamboqborang yang tak pernah kering
Foto : Nasbi
Kolam ini terletak dilereng bukit pamboqborang, diyakini oleh masyarakat bahwa kolam ini merupakan tempat yang sering dipakai oleh leluhur untuk mengadakan upacara adat seperti memandikan putri dan lain-lain. Kolam ini sejak dahulu tidak pernah kering meskipun musim kemarau berkepanjangan melanda tempat ini. Para peziarah yang mengunjungi kuburan "Tosalamaq" juga sering memanjatkan doa ditempat ini, terdapat kuburan orang yang pertama membuat "Ceqdang" yaitu pada tangga turun kekolam ini. Dahulu kala yang dapat menggunakan kolam ini hanyalah para pembesar “Tokaiyanna Kappung” namun sekarang semua warga dapat menggunakan kolam ini.

Potret potensi desa Pamboqborang kab. Majene di atas sebagai alternatif wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata alam menunggu untuk dikunjungi dan diperkenalkan ke dunia luar. Berbagai macam cerminan masyarakat yang masih menjalani tradisi, melanjutkan profesi nenek moyang, dan jejak peradaban yang masih bisa terbaca.

Penulis :
Nasbi
Nasbi, saat ini menetap di lingk. Moloku, Kec. Banggae Kab. Majene. Alumnus S1 Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Negeri Makassar.  Kini bekerja sebagai tenaga honorer di SMU Neg 1 Majene. Hobi menulis dan bertualang, memiliki minat besar dalam ranah budaya, sejarah, fotografi, dan travelling.

Kontak Saya :