Friday, 16 May 2014

Apoang, daerah yang masuk dalam wilayah kecamatan Sendana kab. Majene, mengenali daerah ini hanya karena seorang kawan kini bermukim dan menikahi wanita asal dari daerah ini. Apoang, cukup mudah mengenalinya, jika anda dari arah Somba, kota kecamatan Sendana, kab.  Majene  maka daerah dengan garis pantai yang panjang dengan beberapa kedai kelapa muda yang tersusun rapi adalah wilayahnya. 

Di seberang kedai nyaris tak ada bangunan yang berdiri, karena hanya didominasi oleh kebun milik warga. Entah semenjak kapan kedai-kedai itu mulai berdiri, yang jelas pilihan untuk menikmati wisata kuliner di wilayah ini selalu tersedia. Walaupun sejauh pengamatan saya orang-orang yang mampir di kedai ini tidak begitu ramai, hanya ada beberapa kendaraan beroda dua atau beroda empat yang kadang mampir. 

kelapa muda apoang di kec. sendana kab. majene
kelapa muda apoang di kec. sendana kab. majene (Foto : Tommuane Mandar)
Kedai kelapa muda di Apoang menyajikan buah kelapa muda dengan berbagai macam variasi penyajian, ada yang disajikan dengan menu original yaitu campuran buah kelapa segar dengan serutan gula aren, namun ada pula yang disajikan dengan campuran sirup DHT, merek terkemuka untuk sirup buah yang tersebar di Pulau Sulawesi. Selain itu juga tersedia berbagai macam minuman bersoda, air mineral, aneka snack, dan bahan jualan lain khas kedai-kedai kelontong.

kedai kelapa muda apoang saat malam hari
kedai kelapa muda apoang saat malam hari (Foto : Tommuane Mandar)
Lalu apa yang menarik di Apoang? Dan mengapa sebaiknya anda harus rehat di tempat ini? Apoang menarik menurut saya, karena kedai-kedai ini semuanya menghadap ke lautan lepas, posisi dimana mentari selalu terbenam, maka pemandangan senja adalah mutlak dapat anda saksikan ketika menyempatkan mampir di sore hari menjelang malam. Dengan ditemani satu paket buah kelapa muda segar yang disajikan dengan gula aren produksi lokal yang tanpa pemanis buatan, maka kesempurnaan menikmati senja bisa jadi alasan anda harus mampir di tempat ini. Ada debur ombak dan hembusan angin yang juga akan menemani keseruan anda menikmati senja.
Lalu jika di siang hari seperti apa? anda juga masih bisa menikmati Apoang dengan sajian menu kelapa muda segarnya. Buah ini bisa jadi pelepas dahaga, pencuci pencernaan, dan penambah energi saat anda melalui jalur trans Sulawesi Barat yang panjang. Khawatir dengan hawa panas pantai, anda tak perlu memikirkan tentang itu, struktur atap kedai yang terbuat dari daun “rumbia” atau daun nipa menjadikan suasana didalam kedai menjadi lebih dingin, anda hanya akan ditemani oleh debur ombak dan semilir angin dari perairan pantai Apoang.

Pesisir pantai Apoang memang sangat tepat dijadikan sebagai tempat untuk menyantap kuliner dan menghabiskan waktu mengamati pergantian siang menjadi malam. Pantainya cukup bersih dan jauh dari kawasan penduduk, sehingga limbah rumah tangga tidak ditemukan disini.
Posted by Tommuane Mandar On 07:52 2 Komentar Baca Selengkapnya

Wednesday, 13 November 2013

Menjelaskan Ujung Lero, walaupun belum pernah menginjakkan kaki ke daerah komunitas Mandar besar di tanah Bugis ini bukanlah hal yang tidak mungkin, media informasi yang begitu luas saat ini memungkinkan kita "meraba"  suatu daerah tanpa harus menjejakkan kaki terlebih dahulu.

Ujung Lero hanya sesekali saya pandangi dari bibir pantai kota Pare-Pare, letaknya yang strategis tepat di mulut teluk membuatnya menjadi mudah untuk dilsaksikan dari kejauhan, sangat jelas jika anda berdiri di sepanjang pantai Pare-Pare.

ujung lero dari bibir pantai kota pare-pare
Foto Ujung Lero dari bibir pantai kota Pare-Pare (Foto  : Tommuane Mandar)

Ujung Lero, adalah salah satu desa sentra pemukiman etnis Mandar di kecamatan Suppa kabupaten Pinrang, salah satu kabupaten yang berbatasan dengan kota Pare-Pare dan kabupaten Polewali mandar. Daerah ini dihuni oleh dominan etnis Mandar dengan latar belakang dari berbagai daerah di wilayah Polewali dan Majene. Daerah pemukiman ini terlihat sebagai daratan serupa pulau yang memanjang dan tepat di bagian ujungnya terdapat menara masjid Ujung Lero. 

Secara umum kecamatan Suppa terdiri dari 2 kelurahan dan 8 Desa, yaitu : Kelurahan Watang Suppa, Kelurahan Tellumpanua, Desa Lero, Desa Watang Pulu, Desa Maritengngae, Desa Tasiwalie, Desa Wiring Tasi, Desa Lotang Salo, Desa Ujung Labuang, Desa Polewali. Orang-orang dari etnis Mandar banyak tinggal di desa Lero dan daerah-daerah pesisir di kecamatan ini. Seperti yang diketahui bahwa etnis Mandar adalah kelompok masyarakat yang sangat dekat dengan laut, laut sudah menjadi teman dan ladang untuk mencari penghidupan, profesi mereka yang sebagian besar nelayan telah menjadikan merek identik dengan kehidupan laut, bermukim di pesisir dan menggantungkan hidup dari alam. Sama seperti persebaran etnis Mandar yang juga ditemukan di kabupaten Pangkep tepatnya di Kalmas (Kalukuang-Masalima). Dari dua pola persebaran etnis Mandar ini dapat dlihat secara umum bahwa kelompok masyarakat Mandar banyak tinggal di pesisir dan dekat dengan kehidupan laut.

Ujung lero banyak dihuni oleh etnis Mandar yang berprofesi sebagai nelayan, dari daerah ini pulalah banyak dilahirkan karya-karya seni terbaru tentang lagu-lagu daerah. Ada fakta bahwa karya seni budaya memang dekat dengan alam dan kondisi sosial masyarakat, laut bisa menjadi inspirasi yang sangat baik dalam menelurkan sebuah karya sastra, baik itu dalam bentuk puisi, senandung, ataupun lagu daerah. Ada banyak penyanyi dan pencipta lagu daerah Mandar yang menghiasi label rekaman dan berasal dari Ujung Lero. Ada yang mengatakan bahwa Ujung Lero adalah tempat bermukimnya orang Mandar ketika bencana gempa bumi tahun 1961 melanda tanah Mandar. Entahlah seperti apa yang jelasnya.

Minimnya informasi seputar Ujung Lero, karena daerah ini masih asing bagi, dan saya hanya bisa memandangi dan merabanya dari kejauhan saja.

Posted by admin On 22:09 Tak Ada Komentar Baca Selengkapnya

Tuesday, 12 November 2013

Desa Mirring, salah satu desa yang terdapat di kecamatan Binuang, kabupaten Polewali Mandar. Desa pesisir yang selalu saja indah menurut saya. Setiap kali menginjakkan kaki dan memacu tali gas motor dengan kecepatan cukup tinggi entah mengapa saya selalu saja punya waktu untuk mampir walau sejenak di spot "tikungan tajam" perbatasan desa yang mirip sirkuit-sirkuit di video game balapan mobil yang biasa saya mainkan.

Desa Mirring Polewali Mandar Spot tikungan tajam di perbatasan desa Mirring kab. Polewali Mandar (Foto : Tommuane Mandar)

Tikungan tajam ini spot favorit saya dengan tebing batu disisi kiri dan pantai di sisi sebelahnya, tentu saja dengan pembatas jalan yang terbuat dari campuran baja dan besi berkekuatan tinggi yang dipasang untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan di lokasi ini. Disini juga ditambahkan cermin cembung berukuran besar yang memungkinkan anda melihat kendaraan yang ada didepan anda sebelum berbelok. Saking tajamnya tikungan ini, anda tak dapat melihat kendaraan yang berlawanan arah karena terhalang oleh bukit batu berukuran kecil di salah satu sisinya.

bukit batu tikungan tajam desa mirring
Tebing batu di salah satu sisi perbatasan desa Mirring (Foto : Tommuane Mandar)

Spot yang tepat berada di perbatasan desa Mirring ini cukup jarang saya temui, dahulu di wilayah Barru ada spot yang mirip dengan lokasi ini, namun karena pelebaran yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Barru, maka bukit-bukit batu yang tajam sedikit dikikis dan jalanan diperlebar, karena itu tikungan yang tadinya tajam menjadi tidak lagi dramatis, pembangunan memang kadang merubah sesuatu yang sebelumnya dramatis atau seru menjadi hal yang biasa-biasa saja. Pembangunan sejatinya menghilangkan kealamian sesuatu.

Satu hal berbeda adalah spot tikungan tajam Mirring yang nyaris tidak berubah, walaupun beberapa kali terjadi kecelakaan lalu lintas yang terjadi di lokasi ini, tetap saja bukit batu kecil itu tidak dikikis, atau mungkin wilayah ini belum mengagendakan proyek pelebaran jalan? entahlah, yang jelas spot ini selalu indah.

Mirring pada awalnya adalah desa yang bergabung dalam wilayah kecamatan Polewali dan kini masuk kedalam wilayah kecamatan Binuang. Dimanakah pesona terindah kabupaten Polewali Mandar untuk pemandangan pesisir dan areal persawahannya? kalau ada pertanyaan seperti itu, maka saya akan menjawab desa-desa di kecamatan Binuang adalah jawabannya, saat saya memasuki wilayah Binuang, entah itu dari arah Kabupaten Pinrang atau dari kota Polewali maka daerah ini menurut saya yang paling memanjakan mata. Binuang mempesona semenjak kita meninggalkan wilayah kota Polewali, disambut oleh areal persawahan, topografi berbukit, dan sesekali oleh kawasan pesisir dengan Mangrove (bakau) yang menemani selama perjalanan, belum lagi pulau-pulau yang terletak tepat didepan mata dan jelas terlihat dari tepi jalan. sebutlah misalnya Pulau Battoa yang dapat anda lihat langsung dari spot ini.

Bakau Mangrove Desa Mirring Polewali Mandar
 Pohon bakau (mangrove) di batas desa Mirring (Foto : Tommuane Mandar)

batas desa Mirring Polman
Bentuk tikungan tajam serupa kapsul dengan cermin cembung di sisi jalan (Foto : Tommuane Mandar)

batas desa mirring
Spot yang juga menjadi batas desa Mirring dengan desa tetangganya  (Foto : Tommuane Mandar)

Spot di perbatasan desa Mirring berupa tikungan tajam yang sudah cukup memakan korban ini adalah lokasi sempurna menurut saya, latar belakang Pulau Battoa dan hutan mangrove sangat apik untuk lokasi memotret, lokasinya berjarak sekitar 200 m dari perumahan penduduk, karena itu pesona alaminya masih bisa terlihat dengan jelas. Tak ada rumah penduduk yang akan menjadi latar memotret anda.
Pulau battoa batas desa mirring polewali
Pulau Battoa tampak dari batas desa Mirring  (Foto : Tommuane Mandar)

Kondisi kealamian ini sebaiknya terjaga, ini paling tidak bisa memanjakan mata orang-orang yang melakukan perjalanan di trans Sulawesi. Tetapi sejatinya masyarakat, penjaga kealamian Mirring, serta pemerintah, pihak pemilik kekuasaan tertinggi yang memiliki kebijakan penuh atas desa ini adalah dua pihak yang bertanggung jawab atas titik terindah di kecamatan Binuang ini.
Posted by admin On 22:49 Tak Ada Komentar Baca Selengkapnya

Friday, 8 November 2013

Permandian alam air panas Limboro Majene, salah satu dari potensi objek wisata di kabupaten Majene yang menurut saya begitu pantas untuk dijadikan primadona andalan wisata. Mengapa saya katakan demikian? ada kehangatan "air panas alam" yang tersedia selama waktu yang tidak terbatas disini. Anda dapat dengan puas menikmati kehangatn air alamnya yang etah berasal darimana.

Telah lama objek wisata ini dikenal oleh orang-orang di kecamatan Sendana, utamanya mereka yang berdomisili dekat dengan desa Limboro, desa dimana objek wisata ini terletak. Desa asri yang terletak diantara gunung tinggi  di daerah pedalaman Sendana. Namun, tampaknya untuk kalangan penikmat wisata di Kabupaten Majene sendiri ataupun di Sulawesi Barat sepertiya belum cukup mengenal objek wisata "uai makula" ini. Saya mengenalny setelah seorang rekan yang selalu berkunjung kesini mengajak saya berkunjung ke tempat ini.

Pertama kali menjejakkan ke lokasi objek wisata yang menurut saya jarang di Sulawesi Barat ini (wisata permandian air panas alam) saya betul-betul takjub, entah berapa derajat Celcius suhunya, saya hampir-hampir tak bisa mencelupkan kedua kaki kedalam kolam yang berukuran besar, apatah lagi untuk kolam yang berukuran kecil, sesuai bidang permukaan semakin kecil permukaan maka penguapan akan semakin berkurang, maka jadilah kolam besar akan cenderung lebih dingin suhunya dibanding dengan kolam berukuran kecil. 

Terdapat kurang lebih tiga buah kolam, satu berukuran besar, sementara yang lainnya berukuran sedang dan kecil. Ketiganya tampaknya mendapatkan sumber mata air panas yang berbeda. Untuk kolam besar mata airnya disuplai oleh kolam berukuran kecil, sementara kolam sedang mata airnya disuplai dari titik yang berada di bagian atas kolam.

Konon mandi dipermandian ini dapat menghilangkan penyakit kulit yang anda derita. Dugaan saya kemungkinan terdapat sumber beleran dalam jumlah banyak disekitar kawasan ini, karena biasanya adanya aktivitas vulkanologik biasanya mendukung terciptanya air alam bersuhu panas.

Jika anda butuh merefleksi tubuh anda bisa ke tempat ini untuk sejenak merendam kedua kaki, atau bahkan mencelupkan seluruh tubuh dalam airnya yang cukup panas. Untuk soal berapa derajat Celcius panasa yang dihasilkan saya tidak tahu tepat, yang jelas saya yakin untuk tidak mencelupkan seluruh anggota badan dalam kolam ini, baik yang besar sedang atau kecil, panasnya cukup hebat menurut sayabelum lagi kondisi alam yang dingin di sekitar kolam yang ditumbuhi oleh pepohonan tinggi khas pegunungan membuat suasana dingin, kontras dengan air kolam yang begitu panas.

Satu fakta yang saya dapati saat menjejaki objek wisata ini adalah akses jalan yang cukup sulit, memacu adrenalin karena anda harus memacu kendaraan di puncak dengan ketinggian entah berapa derajat. rute jalan berukuran kecil kadang beraspal dan beton tidak mudah untuk dilalui, singkatnya "butuh perjuangan" untuk sampai ke tempat wisata ini. Jurang menganga di sisi kiri dan kanan serta tanjakan dan turunan yang curam memaksa anda untuk tetap fokus pada rute jalan yang dilalui. Lalu janga berharap jika jalurnya padat, sebaliknya ini jalur sepi, kurang lebih sama ketika kita berada di tengah hutan cagar alam, hanya ada pohon, sungai dan suara burung yang akan anda dengarkan. Sesekali anda akan menemukan warga desa Limboro yang melalui rute ini dari desa mereka menuju kota kecamatan Sendana.

 Kolam berukuran sedang Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

  Kolam berukuran besar Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar

  Kolam berukuran kecil sebagai sumber mata air bagi kolam besar
 Permandian Alam Limboro Sendana kab. Majene
Foto : Tommuane Mandar
Satu kekaguman saya pada warga desa setempat yang tahan berendam di kolam yang berukuran kecil, yangmmenurut saya tingkat panasnya cukup tinggi, mereka dengan mudahnya berendam, bahkan mandi di kolam yang kecil ini, sepertinya tubuh mereka telah melakukan adaptasi terhadap suhu kolam, sehingga tubuhnya menganggap bahwa suhu air kolam masih dapat ditolerir, dan mereka tahan dengan panasnya air kolam. Para peladang yang pulang dari tempatnya bekerja kadang singgah di kolam ini untuk sekedar berendam, mandi dan kemudian pulang kerumahnya, 

Masuk ke objek wisata ini anda tidak harus membayar biaya retribusi, tiak ada pihak pengelola disini, karena itu anda dapat berpuas dan berlama-lama masuk ke area objek wisata ini. Salah satu faktor penting yang sekiranya dapat membuat objek wisata ini dapat diakses dengan mudah adalah adanya akses jalan yang memadai, dan itu tampaknya belum cukup maksimal dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab atas ini.
Posted by admin On 06:11 Tak Ada Komentar Baca Selengkapnya

Monday, 4 November 2013

Pantai Palippis, Polewali Mandar bukan "anak baru", objek wisata ini sudah tergolong "remaja" bahkan bisa dikatakan cukup "dewasa" tetapi masih saja belum dapat dimaksimalkan potensinya. Entah kemudian kita akan menyalahkan siapa atas kondisi Palippis saat ini, ya, ia tidak cukup bersih menurut saya, sama seperti masalah yang menghantam objek-objek wisata lainnya di provinsi Sulawesi Barat, dalam kata lain "minim pengelolaan. Lalu apakah kita akan menyalahkan pemerintah? atau masyarakat sekitar? atau bahkan menyalahkan seluruh warga Sulawesi Barat? 

Pantai Palippis Polewali Mandar
Pantai Palippis di kabupaten Polewali Mandar (Photo Credit : Pusvawirna Natalia Muchtar)
Tidak bijak mungkin jika kita menyalahkan keadaan, orang per orang. Entahlah, seperti apa tepatnya yang jelas keadaan pantai berpasir putih ini yang minim pengunjung, kondisi pantai tak terawat, dan tidak dapat menyumbang pendapatan bagi daerah kabupatennya, atau minimal memberikan pendapatan bagi warga yang tinggal disekitarnya.

Lalu apakah pesona pantai Palippis tidak ada, atau hilang? tentu saja tidak, pesonanya akan tetap ada, sama seperti pesona yang dimiliki pantai-pantai karang berpasir di pesisir teluk Mandar yang selalu kemerlap dengan warna putih pasirnya. Hanya saja pesonanya mungkin tertutupi oleh sampah, benda-benda asing yang terdampar di pesisirnya.

Lalu siapa yang harus membersihkan pantai Palippis? pertanyaan bagus yang mungkin bisa kita alamatkan ke siapa saja, apakah pemerintah? apakah warga? mungkin solusi yang tepat untuk pengelolaan objek wiata seperti ini adalah bentuk kemitraan antara pemerintah dan masyarakat, pemerintah mengaturnya dan melibatkan warga sekitar sebagai staf yang bekerja di wilayah Pantai, tukang parkir, pedagang asongan, petugas pembersih pantai, staff keamanan, dan hasilnya kemudian dilakukan penilaian dalam jangka waktu tertentu misalnya tiap bulan, tiga bulan, enam bulan, dan setahun. Tentu saja dengan motif komersialisasi yang baik, staff diberi upah atau gaji yang cukup sesuai dengan total keuntungan yang didapatkan oleh objek wisata ini.

Kedengarannya mudah kan? tetapi tidak sesimpel itu, butuh untuk mendatangkan kembali pengunjung wisata ke Pantai palippis, karena merekalah sumber pendapatan, semakin banyak mereka menghabiskan uang di lokasi ini, maka keuntungan objek wisata akan semakin maksimal, tentu saja ini butuh kesiapan fasilitas i objek wisata, misalnya saja untuk tempat peristirahatan berupa guest house, akses jalan yang baik, fasilitas untuk kebutuhan dasar. 

Yang jelas, pantai Palippis menurut saya potensial untuk dikembangkan, sama halnya dengan Pantai Mampie Polewali Mandar yang sudah dikelola dengan begitu profesional hari ini.
Posted by admin On 18:11 4 Komentar Baca Selengkapnya

Friday, 2 August 2013

Derasnya sungai Limbong Sitodo bukanlah suatu alasan untuk tidak mencicipi kenaturalan sungai ini. Permandian alam Limbong Sitodo ini berada dalam wilayah Kelurahan Anreapi Kecamatan Polewali. Objek wisata alam ini terletak tak jauh dari kota Polewali, hanya berjarak 6 km, menjadikan Limbong sebagai alternative dalam agenda wisata sungai para wisatawan. Apalagi pada saat musim Durian, Rambutan, ataupun Langsat semakin menambah kegairahan wistawan untuk berkunjung ke Limbong Sitodo.

Limbong Sitodo Polman
Panorama Wisata Alam Limbong Sitodo Polman
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/ 
Pada musim buah tersebut, anda akan menjumpai banyak pedagang yang menjual ketiga buah tersebut disepanjang jalur masuk Limbong. Maka tak heran, jika setelah menikmati sensasi sungai Limbong, kurang afdol rasanya jika tak menjadikan ketiga buah tersebut sebagai buah tangan untuk keluarga anda. Tak perlu khwatir masalah harga, semuanya bisa dinegosiasikan.

Layaknya tempat permandian pada umumnya, fasilitas penunjang rekreasi juga tersedia. Ada beberapa gazebo dan beberapa tempat pilihan untuk sejenak menatap aliran sungai Limbong. Setidaknya sensasi kelembapannya sedikit membantu anda untuk kembali merefresh pikiran anda dari rutinitas yang cukup membelenggu. 

Wisata Alam Limbong Sitodo Polewali Mandar
Wisata Alam Limbong Sitodo di Kab. Polewali Mandar
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/
Hampir tiap hari permandian yang terkenal dengan keindahan panoramanya ini dipadati wisatawan lokal, apalagi jika bertepatan dengan hari libur. Ini terlihat dengan padatnya tempat parkiran yang disediakan, alhasil orang-orang yang mencari nafkah sebagai juru parkir kadang kewalahan karena musti mengatur kendaraan yang bajibun banyaknya. Ditambah lagi, lahan parkir yang tersedia tidak terlalu besar, mengingat lokasi permandian Limbong terletak diantara pegununggan. Kendati demikian, tak urung menyurutkan niat menggebu para wisatawan untuk berderu bersama arus sungai Limbong. 

Sungai Limbong Sitodo
Sungai Limbong Sitodo yang alami
Foto : http://disbudparpolman.weebly.com/
Sajian panorama alam Limbong Sitodo semakin diperindah dengan tebing-tebing yang menjualang tinggi. Dan tepat di bawahnya terdapat beberapa batuan tinggi yang sering digunakan oleh para wisatawan, terkhusus mereka yang hobby melakukan antraksi lompat indah. Namun, kewaspadaan harus tetap di jaga, apalagi bagi wisatawan yang tidak memiliki cukup keberanian untuk mencobanya. Terlepas dari itu, berwisata ke Limbong Sitodo bukanlah pilihan yang mengecewakan.

Penulis :

Dian Febriani, hobi travelling, menulis, dan membaca buku, saat ini sedang bermukim di Makassar, menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan pendidikan Bahasa Inggris, aktif di organisasi kampus Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa (LPPM) Profesi UNM
Kontak Saya :
facebook : https://www.facebook.com/yuuka.shimizudhani 


Posted by admin On 21:14 Tak Ada Komentar Baca Selengkapnya
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Tommuane Mandar


Menetap di Makassar - Sulawesi Selatan - Indonesia.

Hobi travelling dan fotografi serta menyukai wisata kuliner. Tertarik dengan dunia budaya, sejarah, dan wisata Mandar - Sulawesi Barat

Tommuane Mandar Tweet

Data Kunjungan

Histats.com © 2005-20